Rabu, 09 Mei 2012

Berpikir, berpendapat lalu menjadi buku, apa salahnya? (baca: Irshad Manji)

Baru hari Minggu (6 Mei 2012) kemarin saya mengikuti prosesi Waisak yang penuh tenang dan damai dengan keberagaman orang di sana...... tiba tiba hari ini (9 Mei 2012) digegerkan oleh penolakan datangnya seorang tokoh perempuan reformis Islam, Irshad Manji. Apa salahnya dia Berpikir, berpendapat dan menulis buku? Bukunya  "The Trouble With Islam"  (Beriman tanpa rasa takut) banyak membuka mata orang termasuk saya, dia sangat menginspirasi, membongkar ketakutan-ketakutan yang sudah ditradisikan sedari kecil....






Alasan dia menulis buku ini adalah ingin share apa yang dia alami selama 20 tahun belajar Islam secara mandiri. Memutuskan belajar mandiri karena dia telah dikeluarkan dari "Madrasah" hanya karena banyak bertanya dan gurunya tak bisa menjawab. Kemudian buku ke dua yang ditulisnya adalah "Allah Liberty and Love" ........Lalu apa sebenarnya yang ditakutkan oleh umat Islam mainstreem?

kenangan bersama IM di LIP 4 tahun yang lalu

Empat tahun yang lalu kami sempat berdiskusi dengan bukunya yang pertama, tidak ada masalah, awalnya di Pasca Sarjana UGM pada pagi hari, kemudian di siang harinya kami adakan dalam rangka Q!Film Festival di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) setelah itu sore dan malamnya di LKiS dan Pondok Pesantern Al Munawar Krapyak. Tidak ada masalah yang sangat berarti. 

Namun saya sungguh dongkol dan sakit hati hari ini. Saya menghadiri diskusi bukunya yang ke dua dengan nara sumber Irshad Manji sendiri. Pasca Sarjana UGM saya kira adalah tempat yang sangat tepat untuk acara ini, apalagi ada program  Center of religious and cross culture studies nya di sana. Kehidupan kampus yang seharusnya menerima segala ideologi lalu menggodognya dengan diskusi-diskusi secara intelektual, bagi yang tidak setuju boleh berpendapat apa saja. Namun apa yang terjadi hari ini? Irshad manji di tolak oleh Koordinator Pasca Sarjana UGM dengan tekanan Rektor secara langsung demi alasan kebaikan? demi kebaikan? bukankah kalau demi kebaikan ide yang berseberangan itu harus didiskusikan? bukan ditolak? dan saya melihat bahwa kasus ini adalah penolakan Irshad Manji bukan pikiran pikirannya dan anehnya penolakan ini mengangkat isu Lesbian yang sama sekali tidak akan diangkat dalam diskusi ini. Mengapa UGM sebagai  tempat kehidupan intelektual melakukan hal yang sangat tidak intelektual? Kalau memang tidak setuju dengan pemikirannya sebaiknya  kesempatan diskusi ini bisa menjadi media untuk mengungkapkan kritik terhadapnya, bukan malah ditolak. Kalaupun IM dianggap sebagai musuh, bukankah dia datang dengan baik-baik? diterima dengan baik-baik juga dong! Nabi Muhammad SAW saja pernah menerima dengan terbuka kedatangan musuhnya. Kalau belum-belum sudah ditolak bagaimana diskusi bisa terjadi kalau ada keinginan sebagai media untuk meluruskan pikiran orang yang dianggap salah?. 

bodohnya mereka menolak dengan isu yang sama sekali berbeda


Sudah sangat malu dengan almamater, petang harinya saya pun menghadiri diskusinya di Lembaga Kajian Islam dan Ilmu-Ilmu Sosial (LKiS). Suasana sedikit tegang karena siang tadi kantor ini sudah diintimidasi oleh sebuah kelompok bahwa acara akan dibubarkan, namun kita jalan terus. IM datang, diskusi dimulai pukul 19.00 kurang sedikit lalu ditengah-tengah diskusi sekitar 30 menit an massa berpakain putih hitam bersurban dan berhelm datang sekitar 100 orang langsung masuk membubarkan. Tidak hanya itu, mereka memecahkan kaca kaca ruangan, mencabik cabik buku dan memukuli peserta, ternasuk saya melihat beberapa kawan perempuan dipukuli ada beberapa yang sampai berdarah. Saya menyisir kepinggir dan hampir kena pukul, sementara beberapa kawan berusaha melindungi IM. Asisten IM Emily kena pukul juga. Kejadiannya begitu cepat. Saya sangat bergemetar, trauma 11 tahun yang lalu (KKWK2000) tiba-tiba muncul kembali. Sedih, Marah, Dongkol! perasaan saya campur aduk. Setelah gerombolan pergi seperti biasa polisi baru datang. Kawan-kawan yang menjadi korban lalu dibawa ke RS untuk diobati lalu dibikinkan VISUM. Saya pulang dengan perasaan NUMB bahkan sampai menulis inipun saya masih gemetar.

di bawah ini adalah foto foto saat penyerangan oleh Majelis Mujahidin Indonesia di Lembaga Kajian Islam dan Ilmu Sosial (LKiS)
mereka memporak porandakan acara, buku di cabik cabik.

Irshad Manji dalam menangis :
" Don't Hate Them... but Pray for Them!" katanya
















Berikut ini adalah : Media Statements oleh Irshad Manji dalam dua bahasa silakan di klik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar