Sabtu, 19 September 2015

JALAN-JALAN = BELAJAR



Eco Tourism Kawasan Pesisir Bantul DIY.

Merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya diundang oleh Dinas Kelautan dan “Relawan Banyu” dalam acara : “Pengenalan Ekowisata di Kawasan Pesisir Bantul’.  
Sesuai judulnya, acara ini sengaja diagendakan untuk memperkenalkan aktraksi-atraksi wisata berbasis penyelamatan lingkungan. Tujuannya adalah mengajak para wisatawan selain menikmati atraksi wisata yang telah ada sekaligus mendapat pengalaman bagaimana mencintai lingkungan dan penyelamatan kepada lingkungan yang mulai rusak ataupun punah oleh tangan manusia, atau alam itu sendiri. Sehingga para wisatawan akan mendapatkan pengalaman dan ilmu yang dibawa kembali ke rumah masing-masing, direnungkan dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini dimulai dan dilirik lalu didukung oleh dinas pemerintah  karena sebelumnya sudah ada aksi nyata gerakan peduli konservasi Bantul. Gerakan konservasi di Bantul yang sudah dilakukan adalah :






Konservasi Penyu.
Penyu merupakan reptil yang hidup di laut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh di sepanjang Sanudera Hindia, Pasifik dan Asia Tenggara. Spesies penyu mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan berpuluh-puluh tahun untk mencapai usia reproduksi. Penyu dewasa hidup bertahun-tahun di suatu tempat sebelum bermigrasi untuk kawin dengan menempuh jarak  yang jauh (hingga 300km) dari tempat pencarian pakan sampai ke pantai peneluran. Akan tetapi keberadaannya telah lama terancam, baik dari dalam maupun kegiatan manusia yang membahayakan populasinya secara langsung maupun tidak langsung.
Kegiatan konservasi yamg dilakukan di kabupten Bantul sudah dilakukan sejak tahun 2010 dan baru diperkenalkan ke public pada 2012. Tepatnya pada bulan Mei-September pada musim bertelur penyu.
Dari tahun tersebut sampai 2014 jumlah tukik (bayi penyu) yang diselamatkan adalah 5.489 ekor.
Karena itu pemerintah kabupaten Bantul memyusun undang-undang atau paying hokum untuk Pencadangan Kwasan Konservasi Penyu melalu SK Bupati Bantul No 284 tahun 2014 tetnatng pecadangan Kawasan Konsevasi Taman Pesisir Kabupaten Bantul.  
Ada tiga lokasi kawasan konservasi penyu. Pantai Goa Cemara, Pantai Baru Pandan Simo dan Pantai Pelangi.










Konservasi Mangrove.
Sebenarnya penanaman mangrove di pesisir bantul sudah dicoba sejak lama akan tetapi mulai terarah dan intensif dilakukan sejak tahun 2003.
Konservasi Mangrove Jogjakarta tumbuh dari kepedulian masyarakat sekitar muara sungai Opak dan Keluarga Pemuda-Pemudi Baros (KP2B) terhadap lingkungan untuk membina dalam kaitannya Pengembangan Hutan Mangrove Berbasis Pemberdayaan Masyarakat.

Kawasan mangrove ini berfungsi sebagai kawasan konservasi daerah pesisir pantai dusun baros karena pada kawasan ini terdapat areal pertanian yang sering terancam oleh abrasi maupun banjir dan melindungi tanaman pertanian dari angina yang berkadar  garam tinggi. Selain itu kawasan ini juga berfungsi sebagai "sekolah alam" khususnya untuk mempelajari semua tentang mangrove dan ekosistemnya termasuk hewan-hewannya seperti beberapa jenis burung, ikan, serangga, juga yang sering terlihat di pinggir bakau yaitu kepiting; juga anda dapat pula melakukan kegiatan penanaman mangrove.
Lokasi: dusun Baros, di antara pantai Depok dan Samas.
Energi Terbarukan







HYBRID ENERGY.
Pengembangan energi hibryd atau kincir angin dengan panel surya, membantu pengadaan aliran listrik di pantai Baru Pandan Simo Bantul Yogyakarta. Secara geografis, pesisir selatan Yogyakarta merupakan lahan terbuka yang luas, matahari yang bersinar sepanjang hari dan kecepatan angina rata-rata dengan intensitas 4m/s (LAPAN). Kondisi itu menjadi kriteria pengembangan energy Hybrid (kincir angina dan panel surya).
Kincir angina dan panel surya saling mendukung dalam memasok energy listrik. Jika panas terik dan kecepatan angina rendah, maka panel surya yang bertugas menyuplai energy listrik dan kemudian disimpannya dalam batteray/accu. Begitu pula jika cuaca hujan dan kondisi angina kencang, maka kincir angin yang akan mengambil alih sebagai penyuplai energy.
Hasil dari energy ini telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar pantai.











Biogas!
Selain konservasi-konservasi tadi, Pemerintah Kab. Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, dibantu Kemenristek dan KLH mengembangkan biogas yang dihasilkan dari kotoran ternak yang sudah dikelola oleh kelompok masyarakat kawasan pesisir pantai Baru Pandansimo, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan.
Hasil dr biogas ini dialirkan ke kegiatan memasak di rumah-rumah atau warung-warung kuliner pantai. Sehingga Biogas bermanfaat untuk mengakomodir peningkatan ekonomi bagi warga pesisir.










Susur sungai Opak.
Wisata alam menarik lainnya adalah susur sungai Opak. Kami diajak menaiki perahu untuk menyusuri sungai Opak. Berawal dari Pengklik (semacam dermaga di sebelah barat pantai Samas) lalu menuju jembatan sungai Opak dan kembali lagi untuk berlabuh di Laguna pantai Depok.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar