Minggu, 29 Mei 2016

Bukan Perayaan Lampion Bukan pula ajang kumpul wisata


Merasakan prosesi Waisak 2560 BE/2016 
di Candi Sewu Jawa Tengah



Pada Waisak 2560 Buddhis Era / tahun 2016 ini, saatnya mewujudkan keinginan saya untuk merasakan prosesinya di candi Sewu Prambanan.
Seminggu sebelum hari H, saya mencoba menghubungi seorang kawan yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan ke Buddha an. Saya minta ijin agar bisa mengikuti seluruh prosesi perayaan Waisak. Saya tidak mau hanya sebagai penonton di luar pagar, tetapi saya ingin merasakan bagaimana syahdunya prosesi itu.



Titik Purnama Tri Suci Waisak kali ini pada tanggal 22 Mei 2016 pukul 04.15. Setelah jadwal kami peroleh, kami berangkat dari mepo pukul 23.30. Sampai di Candi Sewu sudah banyak umat Buddha di sana, mereka datang dari berbagai daerah. Sudah banyak bus yang parkir di sana. Peserta prosesi dipersilakan menempatkan diri di tenda yang sudah disediakan panitia, di bagian belakan ada beberapa tenda layanan kesehatan dan tenda konsumsi. Peserta disediakan makanan dan minuman secara gratis.



Sambil menunggu prosesi Pradaksina, peserta dipersilakan duduk dengan tenang.
Pukul 01.00 Pradaksina di mulai. Pradaksina adalah upacara mengelilingi candi dengan doa mantra yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Diawali dengan para Bikkhu, Biksu dan Bantee, lalu disusul oleh seluruh peserta upacara, setiap peserta mendapat satu tangkai bunga sedap malam untuk dibawa mengelilingi candi sewu. Peserta sebanyak 3000 umat Budha (menurut jumlah yg dihitung panitia) dari wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta mengikuti rangkaian ritual Waisak ini. Setelah selesai satu putaran para peserta mendapat satu botol air berkah, lalu dipersilakan duduk kembali di tempat semula. Acara selanjutnya mendengarkan Puja Bhakti, sambutan dari kementrian agama, Meditasi dan diakhiri dengan detik-detik Waisak 2560 BE.

Tema Perayaan Waisak tahun ini adalah "Transformasi Mental dengan Damai dan Harmoni".



Tentang Candi Sewu.
Candi Sewu atau nama sebenarnya adalah Manjusrighra merupakancandi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan. Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi Sewu berusia lebih tua daripada Candi Borobudur dan Prambanan. Meskipun aslinya memiliki 249 candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan "Sewu" yang berarti seribu dalam bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro Jonggrang.

Secara administratif, kompleks Candi Sewu terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.


Sabtu, 28 Mei 2016

Kuliner Khas Indonesia Timur di Yogyakarta

Indonesia dengan keberagaman budayanya tentu saja sangat beragam juga kekhas an
kulinernya. Setiap suku bangsa tentu mempunyai ciri khas dalam rasa dan cara memasak suatu masakan. Jika kita berani melakukan perjalanan, mengenal adat istiadat, kebiasaan masyarakat, sudah seharusnya kita mempunyai keberanian untuk mencoba kuliner daerah di setiap tempat yang anda kunjungi, kecuali anda sangat nyaman dalam zona kebosanan.

Rasa Sayange,  adalah salah satu tkp anda untuk menantang lidah anda dalam pertempuran rasa. Menu ikan bakar ada di sana. Baracuda, Kerapu, Kembung, Baronang, Bawal, Udang, Cumi-cumi siap diolah untuk anda coba. Ikan di warung ini tersedia dalam keadaan segar. Bila saat makan tiba-tiba merasakan ikan yang sedang Anda makan tersebut sudah tak segar lagi, Anda bisa menukarnya tanpa harus membayar lagi.

Untuk menikmati ikan-ikan segar itu, kita cukup merogoh kocek sekitar Rp 20.000 saja. Itu sudah satu paket, termasuk ikan, nasi, sayur mayur yang begitu banyak, minuman dan sambal.

Colo-colo, ikan Bumbu kuning, ca Kangkung, Bunga Pepaya dan Papeda tentunya menjadi teman makan siang anda. Tak lepas dr nasi anda juga boleh mencoba makanan pokok lain, seperti pisang, ubi, uli dan kasbi misalnya,  semua direbus dan siap dihidangkan untuk makan siang anda. Selamat Selamat menari dengan lidah anda!








Warung Makan Bu Ning Rasa Sayange Khas Indonesia Timur berlokasi di Jalan Jetis Pasiraman No. 11 Yogyakarta, atau tepat berada di bagian utara Tugu Jogja.


Rabu, 25 Mei 2016

Mengejar Sunrise di gunung "Banyak Angkrem".


Pegunungan Menoreh adalah kawasan pegunungan/perbukitan yang membentang di wilayah barat Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta, sebelah timur Kabupaten Purworejo dan sebagian Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Pegunungan ini sekaligus menjadi batas alamiah bagi ketiga Kabupaten dari dua Provinsi tersebut



Perbukitan Menoreh adalah Surga tersembunyi yang belum banyak terjamah oleh para petualang. Gunung Banyak angkrem salah satunya. Warga sekitar menyebutnya karena bentuk Gunung yang mirip Banyak sedang Angkrem atau mirip "Angsa sedang mengerami telur-telurnya" . Gunung Banyak Angkrem terletak di Desa Kalirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Banyak titik awal dan jalur pendakian yang bisa dilalui. Dari kabupaten Purworejo atau Kabupaten Magelang. Di sini belum ada Basecamp resmi, jadi para pendaki yang akan ke Banyak Angkrem bisa memulai dari 2 Desa yang berbeda Kabupaten, yaitu Desa Kalirejo, Salaman Kabupaten Magelang dan Desa Pekacangan Kabupaten Purworejo, sehingga bisa dikatakan bahwa 2 Desa beda Kabupaten itu mengapit Gunung Banyak Angkrem. Rute melalui Salaman kabupaten Magelang adalah rute yang saya pilih. Apabila anda dari area candi Borobudur, sekitar rumah-rumah parkiran atau penitipan sepeda motor anda ambil lurus ke barat ke arah Salaman, setelah anda melihat rumah makan "cipta rasa" di sebelah kiri dengan cat berwarna merah, pelankan kendaraan anda, kemudian ada jalan ke kiri masuk ke sebuah kampung atau desa, ikuti saja terus jalan itu sampai ketemu perempatan kecil, ambil lurus saja, sampai anda melihat tanda tulisan dusun Mlangen, desa Menoreh. Lurus saja sampai ketemu pos ronda yang memberi petunjuk tulisan ke Banyak Angrem yg di depannya ada sebuah masjid dusun Jetis. 





Mengikuti petunjuk itu artinya kita ke lokasi awal pendakian, bagi yang menggunakan mobil hanya bisa berhenti dan parkir di sini, sementara anda yang menggunakan sepeda motor bisa meneruskan perjalanan sampai ke sebuah gubug paling atas dan parkir di situ. Waktu yang tepat untuk ke Gunung Banyak Angkrem adalah pada pagi hari, saat dimana sunrise khas menoreh menampakkan kecantikannya. Pada pagi hari hampir semua Gunung di Jawa tengah kelihatan jelas dan gagah. mulai dari Gunung tidar, "Triple S" Sumbing, Sindoro, Slamet, Ungaran, Andong dan "Double M" Merapi Merbabu yang nampak sangat jelas di Depan mata. 
















Start Pendakian sebaiknya pada pukul 3 pagi atau camping sekalian di puncaknya. Banyak Angkrem mempunyai 2 puncak yang terdiri dari puncak bayangan dan puncak sejati. untuk mencapai puncak sejati cukup berbahaya karena harus melalui batu dengan latar bukit curam yang tentu saja sangat mungkin bila kita terpeleset. Jadi disarankan agar ketika kondisi licin alangkah baiknya bila kita tidak naik ke puncak sejati karena batunya berlumut dan pijakan kakinya sangat terbatas. Nah itulah gambaran singkat salah satu surga tersembunyi di bukit menoreh, walaupun tak setenar spot-spot yang lain, Gunung Banyak Angkrem punya keistimewaan tersendiri yang layak disebut sebagai Surga Tersembunyi . Waktu yang tepat untuk ke Gunung Banyak Angkrem adalah pada pagi hari, saat dimana sunrise khas menoreh menampakkan kecantikannya. Pada pagi hari hampir semua Gunung di Jawa tengah kelihatan jelas dan gagah. mulai dari Gunung tidar, "Triple S" Sumbing, Sindoro, Slamet, Ungaran, Andong dan "Double M" Merapi Merbabu yang nampak sangat jelas di Depan mata. Start Pendakian sebaiknya pada pukul 3 pagi atau camping sekalian di puncaknya. Banyak Angkrem mempunyai 2 puncak yang terdiri dari puncak bayangan dan puncak sejati. untuk mencapai puncak sejati cukup berbahaya karena harus melalui batu dengan latar bukit curam yang tentu saja sangat mungkin bila kita terpeleset. Jadi disarankan agar ketika kondisi licin alangkah baiknya bila kita tidak naik ke puncak sejati karena batunya berlumut dan pijakan kakinya sangat terbatas. Nah itulah gambaran singkat salah satu surga tersembunyi di bukit menoreh, walaupun tak setenar spot-spot yang lain, Gunung Banyak Angkrem punya keistimewaan tersendiri yang layak disebut sebagai Surga Tersembunyi .

"Ingat! selalu bawa turun sampahmu karena sampah plastik tak akan pernah hancur ditelan zaman"

Minggu, 11 Oktober 2015

CANDI CETHO bersatunya masyarakat Hindu dan Kejawen

Merupakan candi bercorak agama Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa-masa akhir era Majapahit (abad ke-15 Masehi). Lokasi candi berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut, dan secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa GumengKecamatan JenawiKabupaten Karanganyar.
Kompleks candi digunakan oleh penduduk setempat dan juga peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Candi ini juga merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen.



Laporan ilmiah pertama mengenai Candi Ceto dibuat oleh van de Vlies pada tahun 1842. A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dan penemuan objek terpendam dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala (Commissie vor Oudheiddienst)Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini diperkirakan berusia tidak jauh berbeda dari Candi Sukuh, yang cukup berdekatan lokasinya.



Ketika ditemukan keadaan candi ini merupakan reruntuhan batu pada 14 teras/punden bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) ke timur, meskipun pada saat ini tinggal 13 teras, dan pemugaran dilakukan pada sembilan teras saja. Strukturnya yang berteras-teras ("punden berundak") memunculkan dugaan akan sinkretisme kultur asli Nusantara dengan Hinduisme. Dugaan ini diperkuat oleh aspekikonografi. Bentuk tubuh manusia pada relief-relief menyerupai wayang kulit, dengan wajah tampak samping tetapi tubuh cenderung tampak depan. Penggambaran serupa, yang menunjukkan ciri periode sejarah Hindu-Buddha akhir, ditemukan di Candi Sukuh.
Pemugaran pada akhir 1970-an yang dilakukan sepihak oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Suharto (presiden kedua Indonesia) mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original adalah gapura megah di bagian depan kompleks, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung yang dinisbatkan sebagai SabdapalonNayagenggongBrawijaya V, serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.
Selanjutnya, Bupati Karanganyar periode 2003-2008, Rina Iriani, dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi, pada punden lebih tinggi daripada bangunan kubus.



Pada keadaannya sejak renovasi, kompleks Candi Ceto terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk (yaitu teras ketiga) merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman. Pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Ceto.
Sebelum memasuki aras kelima (teras ketujuh), pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi (tulisan pada batu) dengan aksara Jawa Kuna berbahasa Jawa Kuna berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397[1]. Tulisan ini ditafsirkan sebagai fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dan penyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu 1397 Saka atau 1475 Masehi. Di teras ketujuh terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa,surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimikatak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern. Dapat ditafsirkan bahwa kompleks candi ini dibangun bertahap atau melalui beberapa kali renovasi.




Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah tokoh yang sama) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.
Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut "kuntobimo") di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallusmelambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.
Di bagian teratas kompleks Candi Ceto terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan). Di timur laut bangunan candi, dengan menuruni lereng, ditemukan sebuah kompleks bangunan candi yang kini disebut sebagai Candi Kethek ("Candi Kera").



(sumber : WIKIPEDIA)



Sabtu, 19 September 2015

KEDUNG TUMPANG

TULUNG AGUNG 

Perjalanan kali ini saya melirik Jawa Timur bagian selatan. Ya... Tulung Agung menjadi stasiun pemberhentian saya hari itu.



KEDUNG TUMPANG

1,5 jam dari kota Tulung Agung
6 jam dari Surabaya
7 jam dari Yogyakarta






Lokasi ini terletak di tempat yang cukup sulit diakses. Pantai ini secara administratif masuk desa Pucanglaban kec Pucanglaban, Tuluangagung. Kendaraan yang paling cocok untuk sampai ke lokasii ini adalah sepeda motor karna kondisi jalan yang cukup sempit dan berupa makadam. Lokasi ini dapat diakses dengan mengambil rute yang sama dengan pantai Molang






Selain gugusan karang yang dipenuhi lubang alami di sana-sini, di sekitar Kedung Tumpang kita juga akan menemukan sebuah air terjun. Debit air di air terjun ini memang tidak besar namun cukup untuk berbilas. Lokasi air terjun ini berada di ujung barat Kedung Tumpang




Setelah melihat Kedung Tumpang ini mengingatkan saya pada "Angel Billabong" di Noesa Penida Propinsi Bali... yang sebenarnya adalah sebuah muara sungai... namun Kedung Tumpang tak kalah Indahnya.




Saya tidak menyebutnya pantai karena kita tidak akan menemukan pantai dengan pasir landai sampai ketengah laut namun yang kita temui adalah gugusan tebing karang sepanjang 2 kilometer. di sepanjang gugusan tebing karang terdapat kolam-kolam alami yang sangat indah, jernih menggoda untuk disambangi. Kolam-kolam ini terbentuk alami dari erosi yang disebabkan ombak laut. Namun anda harus tetap hati-hati kalau ingin berenang di sini.
Anda hanya bisa dan berkesempatan berenang kalau kondisi laut sedang surut. Biasanya dari pagi sampai jam 3 sore, atau anda akan terhempas oleh ombak besar ke dinding-dinding karang yang tajam, karena terkadang ombak pantai selatan memang sulit untuk diprediksi.



Dari tempat parkir sampai ke kedung ini anda harus menuruni bukit sedikit terjal selama 30 menit. Tali tambang sudah tersedia untuk pegangan anda.



lesson learn :
kenakan alas kaki outdoor.
ikuti petunjuk penjaga pantai ( meski belum resmi namun mereka sangat membantu kita terutama dalam memperkirakan pasang surut laut)
bawa sampah anda kembali dan buang di tempatnya.


selamat jalan-jalan.

JALAN-JALAN = BELAJAR



Eco Tourism Kawasan Pesisir Bantul DIY.

Merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya diundang oleh Dinas Kelautan dan “Relawan Banyu” dalam acara : “Pengenalan Ekowisata di Kawasan Pesisir Bantul’.  
Sesuai judulnya, acara ini sengaja diagendakan untuk memperkenalkan aktraksi-atraksi wisata berbasis penyelamatan lingkungan. Tujuannya adalah mengajak para wisatawan selain menikmati atraksi wisata yang telah ada sekaligus mendapat pengalaman bagaimana mencintai lingkungan dan penyelamatan kepada lingkungan yang mulai rusak ataupun punah oleh tangan manusia, atau alam itu sendiri. Sehingga para wisatawan akan mendapatkan pengalaman dan ilmu yang dibawa kembali ke rumah masing-masing, direnungkan dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini dimulai dan dilirik lalu didukung oleh dinas pemerintah  karena sebelumnya sudah ada aksi nyata gerakan peduli konservasi Bantul. Gerakan konservasi di Bantul yang sudah dilakukan adalah :






Konservasi Penyu.
Penyu merupakan reptil yang hidup di laut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh di sepanjang Sanudera Hindia, Pasifik dan Asia Tenggara. Spesies penyu mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan berpuluh-puluh tahun untk mencapai usia reproduksi. Penyu dewasa hidup bertahun-tahun di suatu tempat sebelum bermigrasi untuk kawin dengan menempuh jarak  yang jauh (hingga 300km) dari tempat pencarian pakan sampai ke pantai peneluran. Akan tetapi keberadaannya telah lama terancam, baik dari dalam maupun kegiatan manusia yang membahayakan populasinya secara langsung maupun tidak langsung.
Kegiatan konservasi yamg dilakukan di kabupten Bantul sudah dilakukan sejak tahun 2010 dan baru diperkenalkan ke public pada 2012. Tepatnya pada bulan Mei-September pada musim bertelur penyu.
Dari tahun tersebut sampai 2014 jumlah tukik (bayi penyu) yang diselamatkan adalah 5.489 ekor.
Karena itu pemerintah kabupaten Bantul memyusun undang-undang atau paying hokum untuk Pencadangan Kwasan Konservasi Penyu melalu SK Bupati Bantul No 284 tahun 2014 tetnatng pecadangan Kawasan Konsevasi Taman Pesisir Kabupaten Bantul.  
Ada tiga lokasi kawasan konservasi penyu. Pantai Goa Cemara, Pantai Baru Pandan Simo dan Pantai Pelangi.










Konservasi Mangrove.
Sebenarnya penanaman mangrove di pesisir bantul sudah dicoba sejak lama akan tetapi mulai terarah dan intensif dilakukan sejak tahun 2003.
Konservasi Mangrove Jogjakarta tumbuh dari kepedulian masyarakat sekitar muara sungai Opak dan Keluarga Pemuda-Pemudi Baros (KP2B) terhadap lingkungan untuk membina dalam kaitannya Pengembangan Hutan Mangrove Berbasis Pemberdayaan Masyarakat.

Kawasan mangrove ini berfungsi sebagai kawasan konservasi daerah pesisir pantai dusun baros karena pada kawasan ini terdapat areal pertanian yang sering terancam oleh abrasi maupun banjir dan melindungi tanaman pertanian dari angina yang berkadar  garam tinggi. Selain itu kawasan ini juga berfungsi sebagai "sekolah alam" khususnya untuk mempelajari semua tentang mangrove dan ekosistemnya termasuk hewan-hewannya seperti beberapa jenis burung, ikan, serangga, juga yang sering terlihat di pinggir bakau yaitu kepiting; juga anda dapat pula melakukan kegiatan penanaman mangrove.
Lokasi: dusun Baros, di antara pantai Depok dan Samas.
Energi Terbarukan







HYBRID ENERGY.
Pengembangan energi hibryd atau kincir angin dengan panel surya, membantu pengadaan aliran listrik di pantai Baru Pandan Simo Bantul Yogyakarta. Secara geografis, pesisir selatan Yogyakarta merupakan lahan terbuka yang luas, matahari yang bersinar sepanjang hari dan kecepatan angina rata-rata dengan intensitas 4m/s (LAPAN). Kondisi itu menjadi kriteria pengembangan energy Hybrid (kincir angina dan panel surya).
Kincir angina dan panel surya saling mendukung dalam memasok energy listrik. Jika panas terik dan kecepatan angina rendah, maka panel surya yang bertugas menyuplai energy listrik dan kemudian disimpannya dalam batteray/accu. Begitu pula jika cuaca hujan dan kondisi angina kencang, maka kincir angin yang akan mengambil alih sebagai penyuplai energy.
Hasil dari energy ini telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar pantai.











Biogas!
Selain konservasi-konservasi tadi, Pemerintah Kab. Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, dibantu Kemenristek dan KLH mengembangkan biogas yang dihasilkan dari kotoran ternak yang sudah dikelola oleh kelompok masyarakat kawasan pesisir pantai Baru Pandansimo, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan.
Hasil dr biogas ini dialirkan ke kegiatan memasak di rumah-rumah atau warung-warung kuliner pantai. Sehingga Biogas bermanfaat untuk mengakomodir peningkatan ekonomi bagi warga pesisir.










Susur sungai Opak.
Wisata alam menarik lainnya adalah susur sungai Opak. Kami diajak menaiki perahu untuk menyusuri sungai Opak. Berawal dari Pengklik (semacam dermaga di sebelah barat pantai Samas) lalu menuju jembatan sungai Opak dan kembali lagi untuk berlabuh di Laguna pantai Depok.