Senin, 25 Juni 2012

ASEAN iNSIDE!

Jalan dengan kawan-kawan satu rumpun (baca: ASEAN) memang mengesankan.... lucu dan menggemaskan... bagaimana tidak, mereka tak habisnya bercerita, bercanda, ngrasani dengan canda sepanjang perjalan ke Pindul Cave dan ke Pantai Ngandong. Sangat typical ternyata, kita punya kebiasaan yang sama dalam bercanda, selalu ada stereotype yang muncul ketika ngomongin teman dari mana mereka berasal... hehehe




















Senin, 18 Juni 2012

Jangan Takut Nonton Film LGBTIQ!

Kampanye "Keberagaman Seksualitas" lewat ini saya bilang "berhasil". Selain komunitas LGBT yang menonton film ini, ternyata masyarakat umum dari berbagai komunitas banyak juga yang hadir!



Setelah peristiwa Q-Film-Festival 2010 yang sempat diancam dan dihentikan oleh Forum Ummat Islam DIY, (meskipun kita diam-diam pindah tempat hehehe_) ada beberapa orang yang semangatnya menjadi menurun juga merasa takut dan khawatir untuk berbagi sekaligus menonton film - film seru itu! Bisa di buktikan Q! Film Festival 2012 beberapa bulan lalu sangat sepi penonton... mungkin karena publikasi dan kerjasama dengan komunitas lokal kurang terbangun,,, jadi ya gak ada yang nonton alias kampanye yang "MUBADZIR". 

Setahu saya selama saya ikut menyelanggarakan Q!Film Festival dari yang judulnya "Traveling to Jogja" sampai Jogja punya Q!FF (Q! Film Festival Jogja) sendiri, kita punya tujuan yang sangat 'mulia' yaitu kampanye LGBTIQ melalui media film. Dengan film-film yang diputar kita dapat menunjukkan bahwa komunitas LGBTIQ itu memang ada di sekitar kehidupan ini, mempunyai hak yang sama dengan masyarakat umum, dan punya cerita-cerita yang sangat beragam, dari cerita sedih, asmara sampai cerita bahagia... 





Pertengahan Mei kawan saya Nino mengajak saya untuk mengadakan nobar film "Sanubari-Jakarta". Kebetulan kru dari film itu akan melakukan road show. Kesepakatan diambil dengan melibatkan Ithonk aktifis isu aborsi aman dari SAMSARA, Fairy aktifis advokasi komunitas dari PKBI DIY dan Nocky seorang kawan yang sedang semangatnya berkampanye 'anti bullying' melalui media dengan "@SaveDiversity" nya. Saya menusulkan melibatkan Save Diversity karena saya sudah melihat sepak terjangnya yang lumayan 'keren', sangat inisiatif dengan tidak hanya omdo dan hanya mementingkan citra diri. Selain Save Diversity kita juga mengajak gabung kawan-kawan "PeaceGen!: yang memang sudah tidak diragukan performen kerjanya. 

Beberapa kali rapat acara dan strategi keamanan yang dikomandani Ema PeaceGen yang sebetulnya juga ketua JamGaman (jaringan Ham dan Keberagaman) Sanubari Jakarta akhirnya diroadshowkan ke Jogja pada 15 Juni 2012, bertempat di LIP Sagan Joga (di mana Q!FFest 2010 dibubarkan kaum berjubah itu..... meskipun diam-diam kita pindah vennue...hehehe) rasa sedikit tegang tentu masih ada namun karena perencanaan dan strategi keamanan kita bahas serius yah sedikit terpinggirkanlah sitegang tadi... penonton screening sore tak sebanyak malam karena ada diskusi dengan artis dan kru... acara berakhir pukul 23.00.... kami lega karena aman tanpa ancaman.... dan banyak komentar "suka" film nya! ....   Thanx God!





masyarakat dari berbagai kelompok sangat antusias menonton

Dimas Harry 


ada juga media kampanye dari Zin sampai merchandise


Minggu, 03 Juni 2012

HAPPEN! : an iLEGAL WEDDING AFFAIR





"Love builds bridges where there are none"

One month ago my friend Ahmad Syaifuddin (Didin) and his boyfriend Warren Jones invited me in a dinner... it's unussual,  coz i almost never have time out together with Didin especally with both of them. 

Finally they said to me that they will held a commitment ceremony party and they ask me to be an officiant person. Super Shocked me! really! but they ask to me...  

So today, this afternoon we have a little wedding private party. It's going very  nice and sweet. Arround 50 people invited and some of them are gay couples. 
the Very nice place named Villa Hanis in Jalan Palagan preparing a beautiful atmosphere, white tents, white chairs with colourful flowers and balloons surround. The wedding singers singing all the time to welcome wedding guests come in. 

Commitment Cermony starting, i read the guide book in wich commitment senteces in six pages... with nice lovely words and touchy. 

This time, An iLegal wedding affair happen here in Yogyakarta appart of  Indonesia where this mariage has been legalized yet! so we choose this way, becouse there is no reason to hinder our love commitment. 

We live in the multicultural country so that all citizens have equal rights but in fact no regulation for this mariage. 






" We are different in many ways but i promise we same about Love..." 



We don't need  "gay mariage" or "same sex mariage" but we just want to call it "Mariage"  it all.





Selasa, 29 Mei 2012

GAGA WHAT'S WRONG ARE YOU?



Just coming back from Phnom Penh, laid my back off then put the TV on, i was very shocked whatched news about Lady Gaga. The Islamic Defender making a trouble again and again... Just feel shocked again because before i went abroad i was in LKiS / an Irshad Manji's tragedy. They dissolved and distructived our disscussion . Traumatic still spining in my head. They threatened to dissolve and make chaotic Jakarta if the Lady gaga Concert will be happen. They said Lady gaga is a devil who will undermain the moral and religious. And the absolutely hate coz Lady Gaga agree with the same sex mariage and support  LGBT community.


I was continued shock coz the Indonesian police at least government do not respon well and they are not doing must be done! They seem affraid of the FPI. Actually FPI is the only small group organisation but government always cannot stop FPI even though FPI doing the violences. Finally promoters canceling the concert for the security reasons.
What happen beetwen FPI and Government? oh Indonesia....

Please click this site :  http://www.youtube.com/watch?v=fcLKkxMcAUI&feature=share



Gaga Speech!

Link :
Gaga in Asia by : Ng Yi-Sheng


Senin, 14 Mei 2012

Terkejut di Phnom Penh







Phnom Penh Cambodia
Tak dinyana kalau saya harus berangkat ke Cambodia memenuhi undangan LGBT PRIDE di sana. Kabarnya sangat last minute dan saya harus berpikir dan melakukan tindakan secepatnya untuk mendapatkan uang dan mencari tiket, karena semua biaya reimburse di sana. Saya dipanggil Arus Pelangi untuk menggantikan seseorang yang karena sesuatu hal tak bisa berangkat ke sana. Sungguh saya belum mempelajari peta maupun kota dan kebudayaannya seperti biasanya kalau saya akan pergi ke suatu tempat. Ini membuat saya sadar pasti akan mendapatkan Culture Shock di sana.  Dengan kereta Fajar Utama saya ke Jakarta, menginap semalam dan waktu subuh saya harus sudah ke Bandara SOETA karena pesawat akan saya tumpangi berangkat pada pukul 06.00. Saya berangkat dengan maskapai JET AIR dengan kursi yang tak bisa di 'laydown' kan lalu transit di Changi Singapura selama satu jam. Pesawat Value Air menyambung perjalanan saya ke PNH International Airport. Begitu keluar bandara saya sudah di sambut abang Tuk Tuk membantu dan mengantar saya mencari alamat penginapan Burly Guest House yang terletak di 111 road dekat Sihanouk Blv. 

Shock pertama : jalur kendaraan ada di sebelah kanan, ketika menyeberang saya salah menengok ke kanan yang seharusnya menengok ke kiri dulu.






LGBT PRIDE  ala CAMBODIA


Acara ini ber TEMA Never Ending Pride - Different but the Same bertempat di seputaran Phnom Penh City diselenggarakan oleh ROCK (Rainbow Community Campuchea) adalah organisasi berbasis komunitas  dengan jaringan LGBT terbesar di Cambodia.


Shock ke II : tidak satu panitia pun menyambut. saya harus mencari alamat hotel dan venue-venue acara sendiri.

Acara ini diadakan dalam 10 hari (diadakan dari tanggal 12-20 Mei 2012) Pride Day di Kamboja banyak acaranya, mulai dari Pameran Seni Rupa, Fotografi, pemutaran film, balapan tuk-tuk (transportasi umum khas Phnom Penh), Pride Karaoke, Pride Roler Skater, workshop, press Conference dan diakhiri dengan Community Pride.


14 Mei 2012
Saya (mewakili Arus Pelangi) dan dua teman dari Indonesia Dian (Dipayoni Sby) dan Merlyn Sopjan (FKWI) diundang mulai tanggal 14 Mei sampai akhir acara. Artinya kami sudah kehilangan acara pada tanggal 12 dan 13 nya. Acara seperti ‘balap tuk tuk’ tidak bisa  kami hadiri karena waktunya penyelenggaraanya pas saat kami tiba di sana. Malam petama di Phnom Penh, setelah makan malam kami mengunjungi pameran Photo di Top Art Gallery lalu kami melanjutkan ke pemutaran film di Meta House (semacam tempat kursus bahasa Jerman) film yang diputar saat itu adalah “Tomboy”.



Shock III : Makanan di Phnom Penh murah dan ueeenak!


Tuk tuk Race


Tuk Tuk Race on Rain

15 Mei 2012
Karena banyak acara mulai pada pukul 18.00 maka kami memanfaatkan waktu untuk meng-eksplore Phnom Penh. Kami jalan kaki dan kenalan dengan beberapa penduduk local. Malamnya kami ke pamern seni rupa kembali.


Shock III : Banyak orang ramah, jujur dan suka bercerita


Happy Birthday King!

Family Silk


16 Mei 2012
Pagi hari di loby hotel sudah berkumpul teman teman Asean, kami bersama menuju tempat pertemuan di suatu gedung penelitian. Ternyata di sana kami diajak meeting untuk membicarakan acara pers conference yang akan diadakan pada pukul 14.00. kami meutuskan Dian untuk maju dalam acara itu.
Setelah perwakilan dari keleompok ASEAN berbagi satu persatu, kami memaparkan situasi LGBT di Indonesia termasuk kejadian “Irshad Mannji”.  Dian menyatakan bahwa sesungguhnya tidak semua bangsa dan masyarakat Indonesia itu membenci LGBT, bahkan LGBT sudah ada lama di masyarakat dan budaya seperti tentang Gemblak dan Bissu, namun hanya karena ada kelompok kecil fundamentalis Islam yang sangat berteriak, melakukan kekerasan dan dimanfaatkan oleh politik, maka negara menjadi melakukan pembiaran atas kekerasan kekerasan yang terjadi. Di sini Dian mengaku sebagai "Proud of Lesbian Muslim".






Namun pers konferens ini lebih banyak mengangkat permasalahan hak LGBT di Kamboja.
Noy Sitha (61) seorang lesbian bercerita.  Sejak usia 9 tahun saya sudah tertarik pada perempuan. Membutuhkan waktu lama untuk bisa diterima keluarga, tetangga dan orang-orang lain
“Mereka menganggapku orang aneh dan bukan seperti manusia”. Jelasnya. Noy Sitha menikah dengan pacar perempuannya dalam upacara kecil Buddha. Lalu mereka mengadopsi tiga anak dan kemudian lama lama keluarganya berlaku baik padanya. Namun masyarakat masih menganggap dia adalah orang terbuang.
Namun Gambaran kehidupan LGBT di Kamboja terlukis kembali pada minggu ini berkat ROCK (Rainbow Community Campuchea).
Relawan ROCK Colette O’regan mengatakan bahwa pelecehan banyak terjadi ada Waria karena memang penampilannya kelihatan berbeda. “ini memperlihatkan kebijakan atas rasa aman pada masyarakat masih belum diakomodir”.





Beda lagi dengan ungkapan Prost Auch 24 th. Dia dipisahkan dengan pasangannya secara paksa oleh keluarganya dengan bantuan pemerintah setempat.  
“Mereka memaksa kami untuk mengatakan bahwa kami tidak saling mencintai mereka menuduh kami menggunakan obat yang efeknya membuat kami saling mencintai, mereka mengatakan bahwa hubungan kami tak legal”.
Ou Virak (Direktur Eksekutif Pusat Kamboja untuk HAM) mengatakan bahwa tidak ada hukum yang melarang homoseksualitas.
Ou Virak juga mengingatkan bahwa raja Norodom Sihanouk telah mendukung perkawinan sejenis pada tahun 2004.
Kebijakan kebijakan yang membawa rasa nyaman pada LGBT sangat dibutuhkan saat ini. Pendidikan LGBT perlu disasar pada pemerintah dan masyarakat umum. Karena sampai saat ini pelecehan yang dilakukan masyarakat dan pemerintah masih terjadi.
Chea Samun ketua komunitas Kampong Chnnang Provinsi Popel mengatakan bahwa kebijakan sudah jelas tidak melarang hubungan sesame jenis dan perilaku transgender.
“Kami tidak melarang untuk saling mencintai sesama jenis dan mengubah jenis kelamin mereka karena itu adalah hak mereka untuk memilih cara itu. Namun LGBT akan dituntut sama dengan orang lain apabila melanggar hukum”. Tandasnya.
Raja juga mengatakan bahwa Gay harus diterima oleh setiap orang.


Super Shock! : Agama menerima keberadaan LGBT dan Raja mendukung LGBT!



temen temen dari Seksuality Merdeka dan dari Thailand




17 Mei 2012
Hari pertama Workshop. Kami bersama sama lagi menuju Baitong Café. Di lantai dua dengan ruangan 8 X 4 meter kami berdesak desakan di sana.
ROCK adalah organisasi dengan jaringan LGBT terbesar di Cambodia, sekitar 100 orang lebih kami berdesakan dengan para LGBT tua dan muda yang datang dari desa desa sekitar Phnom Penh, banyak dari mereka pertama kali menginjakakkan kaki di sini. Mereka share tentang kehidupan LGBT mereka di desa.





Salah satu dari kami kelompok ASEAN, dari ICS sebuah organisasi yang bepusat di Ho Chi Minh Vietnam, memperkenalkan PFLAG yaitu orang tua LGBT yang sudah menerima dan siap ikut dalam perjuangan. Dua orang ibu dari anaknya yang gay bercerita, :
“ Saya melemparkan pisau kepada nak saya dan saya berkata : bunuhlah saya kalau kamu memang gay!” beliau bercerita sambil mengeluarkan air mata, langsung suasana menjadi tegang penuh emosi perasaan, saya pun ikut mengeluarkan air mata.
“ Saya lalu pergi ke  Gereja dan berdoa, menangis” lalu beberapa hari kemudian ibu itu mendapat undangan pada suatu pertemuan, ternyata itu adalah pertemuan PFLAG yang diadakan secara rutin dan dia disadarkan secara bertahap untuk menerima anaknya secara perlahan di sana.
Teddy bercerita, kalau orang tuanya membawa ke pskiater dan ke tempat biarawan, mereka memberi makan beras merah untuk menyembuhkan gay saya… namun gak berhasil, akhirnya orang tuanya diberi undangan PFLAG dan akhirnya dia bergabung.

peserta dari pelosok Cambodia

Ada dua orang lesbian yang menulis lagu dan menyanyikannya. Lagunya tentang Hak Asasi Manusia. Walaupun tak tahu artinya namun saya mersasakan keharuan dalam lagu itu. Berbagi cerita masih berlanjut, ada dua pasang Lesbian pasangan pertama sudah jalan 40 tahun. Sebagai laki lakinya dia memakai ‘krama’ yaitu syal kotak2 merah putih khas Khmer dan istrinya memakai gaun polka dot. Mereka berdiri dengan bangganya. Sejak usia 9 tahun dia sudah merasa dirinya lesbian, dia bertemu dengan pasangannya pada tahu 1976, mereka tinggal bersama melalu masa Khmer Merah, selama tahun 1980 mereka mengarungi susahnya hidup, ada usaha keluarga untuk memisahkan mereka dan menikahi laki-laki, namun dia akan bunuh diri jika itu terjadi. Akhirnya dia mengadopsi tiga bayi dan sekarang punya 6 cucu. Pasangan ke dua bedanya mereka sempat beberapa kali dihukum Khmer Merah, dimasukkan ke dalam sumur namun akhirnya berhasil bertemu lagi dan mengadopsi 8 anak. Dia berpesan, “untuk mencintai dan mengasihi harus stu orang saja, jangan sepuluh orang!” langsung peserta tertawa dan tepuk tangan.


Lesbian Couple Sitha they together since 1976
Kehidupan lesbian di kamboja mempunyai kerugian ganda, pertama oleh nilai-nilai tradisional yang menuntut peran tertentu dan kedua kerena kehidupan di kota hanya gay laki laki yang mudah berekspresi dan diterima sehingga kelompok lesbian tidak terlihat sama sekali.



dari Indonesia

Hugs for PFLAG session
18 Mei 2012
Workshop ke 2 ini diisi presentasi Media oleh Vietnam, Singapore dan Thailand.


lihat contoh medianya :                  


Pinkdot Singapura
                                 


                                                   

Pada malam harinya kami menonton pemutaran film “Lovely Man” dari Indonesia. Pengunjungnya hanya 7 orang karena yang lain lebih tertarik untuk ke acara Pride Nite di Blue Chilli’s Club.
Pride Nite
Tak beda dengan acara acara gay club di Indonesia dengan hiburan DragQuens dan Disco Time.


Drag Queen

Anna From Laos  and Heart from Philipina




19 Mei 2012
Kami mendengar presentasi dari PBB dengan focus pada DUHAM, lalu sessi ke dua kami berdiskusi mengenai Yogyakarta Principals dan di sambung dengan implementasi perilaku yang melanggar prinsip prinsip Yogyakarta Principals, dilakukan denga role play oleh anak anak muda Lesbian dan gay.

20 mei 2012
Di Pagoda Tuol Dombok Phnom Penh, kami berkumpul dengan 200 an orang di sana, banyak acara di sana tetapi yang paling menarik adalah pemberkatan oleh Bikhu Khann Sovan sebagai ketua Pagoda itu.





Pemberkatan oleh Bhiksu





Monk Blessing

Peserta Family Pride!


Berkat mengatakan bahwa Buddha tidak bertentangan dengan seksualitas dan gender seseorang.
“ Kami Budha mengajarkan seseorang untuk mencintai dan mengasihi dan tidak melakukan diskriminasi pada satu sama lain”
Beliau mengajarkan tentang lima ajaran  Dharma yaitu :
1.   Tidak membunuh
2.   Tidak mengkonsumsi minuman keras
3.   Tidak berbohong
4.   Tidak mencuri
5.   Tidak mengambil bagian dari perbuatan asusila.
Kemudian beliau memercik-percikan air suci ke peserta…
Pemberkatan lebih kurang setengah jam kemudian dilanjut dengan hari komunitas yang diisi dengan hiburan-hiburan menarik, seperti menyanyi oleh teman teman Lesbian dan gay, menari oleh waria dan beberapa games mengenai pencegahan HIV dan AIDS.


Tari tradisional oleh waria





Srun Sronn sebagai fasilitator acara Pride ini mengatakan bahwa ia ingin bahwa teman teman LGBT tetap berhubugan dengan agama mereka.
“ Hak Asasi manusia sudah ada dalam agama Budhha, kita lihat bahwa banyak pagoda di Phnom Penh, mereka bersedia menjadi tempat pride kita berarti mereka  sudah menerima kita dan menunjukkan bahwa kita juga punya hak untuk menggunakan tempatnya”. Lanjutnya.
Pada saat itu juga dia memberikan pesan kepada masyarakat Kamboja yang belum menerima homoseksualitas atau yang masih berpikir bahwa itu tidak wajar.


Srun Sorn



“Saya percaya bahwa tidak ada yang membuat kami menjadi lesbian atau gay atau trans, itu sudah ada sejak kita dilahirkan, jadi orang tua harus memahami ini dan tidak melarang perilaku lesbian dan homoseksual pada anak anaknya lagi”.





“Tidak seperti Pride di Negara Negara lain, yang ditandai dengan parade di jalan jalan besar namun disini lebih member pendidikan pada hak LGBT di Kamboja. Masyarakat Kamboja lebih kelihatan terbuka, buktinya acara ini tidak diganggu oleh polisi, jika ingin acara besar tentu saja rasanya malah terpisah dengan polisi, tetapi dengan acara kecil kecil di banyaktempat malah terasa aman dan polisi pun bisa bergabung”. Jelasnya.





Sepulang dari Pagoda kami menyempatkan jalan-jalan di pasar Rusia. Malam harinya kami bersosialisasi dengan peserta ASEAN yang lain sekalian berpamitan karena besok paginya kami harus ke Bandara untuk kembali ke Indonesia.





Acara ini sangat merindukan.


Last SHOCK! : seedih... harus pulang!


                                    Save Diversity Indonesia tentang anti bullying