Minggu, 11 Oktober 2015

CANDI CETHO bersatunya masyarakat Hindu dan Kejawen

Merupakan candi bercorak agama Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa-masa akhir era Majapahit (abad ke-15 Masehi). Lokasi candi berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut, dan secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Kompleks candi digunakan oleh penduduk setempat dan juga peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Candi ini juga merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen.



Laporan ilmiah pertama mengenai Candi Ceto dibuat oleh van de Vlies pada tahun 1842. A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dan penemuan objek terpendam dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala (Commissie vor Oudheiddienst)Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini diperkirakan berusia tidak jauh berbeda dari Candi Sukuh, yang cukup berdekatan lokasinya.



Ketika ditemukan keadaan candi ini merupakan reruntuhan batu pada 14 teras/punden bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) ke timur, meskipun pada saat ini tinggal 13 teras, dan pemugaran dilakukan pada sembilan teras saja. Strukturnya yang berteras-teras ("punden berundak") memunculkan dugaan akan sinkretisme kultur asli Nusantara dengan Hinduisme. Dugaan ini diperkuat oleh aspekikonografi. Bentuk tubuh manusia pada relief-relief menyerupai wayang kulit, dengan wajah tampak samping tetapi tubuh cenderung tampak depan. Penggambaran serupa, yang menunjukkan ciri periode sejarah Hindu-Buddha akhir, ditemukan di Candi Sukuh.
Pemugaran pada akhir 1970-an yang dilakukan sepihak oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Suharto (presiden kedua Indonesia) mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original adalah gapura megah di bagian depan kompleks, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.
Selanjutnya, Bupati Karanganyar periode 2003-2008, Rina Iriani, dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi, pada punden lebih tinggi daripada bangunan kubus.



Pada keadaannya sejak renovasi, kompleks Candi Ceto terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk (yaitu teras ketiga) merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman. Pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Ceto.
Sebelum memasuki aras kelima (teras ketujuh), pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi (tulisan pada batu) dengan aksara Jawa Kuna berbahasa Jawa Kuna berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397[1]. Tulisan ini ditafsirkan sebagai fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dan penyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu 1397 Saka atau 1475 Masehi. Di teras ketujuh terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa,surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern. Dapat ditafsirkan bahwa kompleks candi ini dibangun bertahap atau melalui beberapa kali renovasi.




Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah tokoh yang sama) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.
Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut "kuntobimo") di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallusmelambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.
Di bagian teratas kompleks Candi Ceto terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan). Di timur laut bangunan candi, dengan menuruni lereng, ditemukan sebuah kompleks bangunan candi yang kini disebut sebagai Candi Kethek ("Candi Kera").



(sumber : WIKIPEDIA)



Sabtu, 19 September 2015

KEDUNG TUMPANG

TULUNG AGUNG 

Perjalanan kali ini saya melirik Jawa Timur bagian selatan. Ya... Tulung Agung menjadi stasiun pemberhentian saya hari itu.



KEDUNG TUMPANG

1,5 jam dari kota Tulung Agung
6 jam dari Surabaya
7 jam dari Yogyakarta






Lokasi ini terletak di tempat yang cukup sulit diakses. Pantai ini secara administratif masuk desa Pucanglaban kec Pucanglaban, Tuluangagung. Kendaraan yang paling cocok untuk sampai ke lokasii ini adalah sepeda motor karna kondisi jalan yang cukup sempit dan berupa makadam. Lokasi ini dapat diakses dengan mengambil rute yang sama dengan pantai Molang






Selain gugusan karang yang dipenuhi lubang alami di sana-sini, di sekitar Kedung Tumpang kita juga akan menemukan sebuah air terjun. Debit air di air terjun ini memang tidak besar namun cukup untuk berbilas. Lokasi air terjun ini berada di ujung barat Kedung Tumpang




Setelah melihat Kedung Tumpang ini mengingatkan saya pada "Angel Billabong" di Noesa Penida Propinsi Bali... yang sebenarnya adalah sebuah muara sungai... namun Kedung Tumpang tak kalah Indahnya.




Saya tidak menyebutnya pantai karena kita tidak akan menemukan pantai dengan pasir landai sampai ketengah laut namun yang kita temui adalah gugusan tebing karang sepanjang 2 kilometer. di sepanjang gugusan tebing karang terdapat kolam-kolam alami yang sangat indah, jernih menggoda untuk disambangi. Kolam-kolam ini terbentuk alami dari erosi yang disebabkan ombak laut. Namun anda harus tetap hati-hati kalau ingin berenang di sini.
Anda hanya bisa dan berkesempatan berenang kalau kondisi laut sedang surut. Biasanya dari pagi sampai jam 3 sore, atau anda akan terhempas oleh ombak besar ke dinding-dinding karang yang tajam, karena terkadang ombak pantai selatan memang sulit untuk diprediksi.



Dari tempat parkir sampai ke kedung ini anda harus menuruni bukit sedikit terjal selama 30 menit. Tali tambang sudah tersedia untuk pegangan anda.



lesson learn :
kenakan alas kaki outdoor.
ikuti petunjuk penjaga pantai ( meski belum resmi namun mereka sangat membantu kita terutama dalam memperkirakan pasang surut laut)
bawa sampah anda kembali dan buang di tempatnya.


selamat jalan-jalan.

JALAN-JALAN = BELAJAR



Eco Tourism Kawasan Pesisir Bantul DIY.

Merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya diundang oleh Dinas Kelautan dan “Relawan Banyu” dalam acara : “Pengenalan Ekowisata di Kawasan Pesisir Bantul’.  
Sesuai judulnya, acara ini sengaja diagendakan untuk memperkenalkan aktraksi-atraksi wisata berbasis penyelamatan lingkungan. Tujuannya adalah mengajak para wisatawan selain menikmati atraksi wisata yang telah ada sekaligus mendapat pengalaman bagaimana mencintai lingkungan dan penyelamatan kepada lingkungan yang mulai rusak ataupun punah oleh tangan manusia, atau alam itu sendiri. Sehingga para wisatawan akan mendapatkan pengalaman dan ilmu yang dibawa kembali ke rumah masing-masing, direnungkan dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini dimulai dan dilirik lalu didukung oleh dinas pemerintah  karena sebelumnya sudah ada aksi nyata gerakan peduli konservasi Bantul. Gerakan konservasi di Bantul yang sudah dilakukan adalah :






Konservasi Penyu.
Penyu merupakan reptil yang hidup di laut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh di sepanjang Sanudera Hindia, Pasifik dan Asia Tenggara. Spesies penyu mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan berpuluh-puluh tahun untk mencapai usia reproduksi. Penyu dewasa hidup bertahun-tahun di suatu tempat sebelum bermigrasi untuk kawin dengan menempuh jarak  yang jauh (hingga 300km) dari tempat pencarian pakan sampai ke pantai peneluran. Akan tetapi keberadaannya telah lama terancam, baik dari dalam maupun kegiatan manusia yang membahayakan populasinya secara langsung maupun tidak langsung.
Kegiatan konservasi yamg dilakukan di kabupten Bantul sudah dilakukan sejak tahun 2010 dan baru diperkenalkan ke public pada 2012. Tepatnya pada bulan Mei-September pada musim bertelur penyu.
Dari tahun tersebut sampai 2014 jumlah tukik (bayi penyu) yang diselamatkan adalah 5.489 ekor.
Karena itu pemerintah kabupaten Bantul memyusun undang-undang atau paying hokum untuk Pencadangan Kwasan Konservasi Penyu melalu SK Bupati Bantul No 284 tahun 2014 tetnatng pecadangan Kawasan Konsevasi Taman Pesisir Kabupaten Bantul.  
Ada tiga lokasi kawasan konservasi penyu. Pantai Goa Cemara, Pantai Baru Pandan Simo dan Pantai Pelangi.










Konservasi Mangrove.
Sebenarnya penanaman mangrove di pesisir bantul sudah dicoba sejak lama akan tetapi mulai terarah dan intensif dilakukan sejak tahun 2003.
Konservasi Mangrove Jogjakarta tumbuh dari kepedulian masyarakat sekitar muara sungai Opak dan Keluarga Pemuda-Pemudi Baros (KP2B) terhadap lingkungan untuk membina dalam kaitannya Pengembangan Hutan Mangrove Berbasis Pemberdayaan Masyarakat.

Kawasan mangrove ini berfungsi sebagai kawasan konservasi daerah pesisir pantai dusun baros karena pada kawasan ini terdapat areal pertanian yang sering terancam oleh abrasi maupun banjir dan melindungi tanaman pertanian dari angina yang berkadar  garam tinggi. Selain itu kawasan ini juga berfungsi sebagai "sekolah alam" khususnya untuk mempelajari semua tentang mangrove dan ekosistemnya termasuk hewan-hewannya seperti beberapa jenis burung, ikan, serangga, juga yang sering terlihat di pinggir bakau yaitu kepiting; juga anda dapat pula melakukan kegiatan penanaman mangrove.
Lokasi: dusun Baros, di antara pantai Depok dan Samas.
Energi Terbarukan







HYBRID ENERGY.
Pengembangan energi hibryd atau kincir angin dengan panel surya, membantu pengadaan aliran listrik di pantai Baru Pandan Simo Bantul Yogyakarta. Secara geografis, pesisir selatan Yogyakarta merupakan lahan terbuka yang luas, matahari yang bersinar sepanjang hari dan kecepatan angina rata-rata dengan intensitas 4m/s (LAPAN). Kondisi itu menjadi kriteria pengembangan energy Hybrid (kincir angina dan panel surya).
Kincir angina dan panel surya saling mendukung dalam memasok energy listrik. Jika panas terik dan kecepatan angina rendah, maka panel surya yang bertugas menyuplai energy listrik dan kemudian disimpannya dalam batteray/accu. Begitu pula jika cuaca hujan dan kondisi angina kencang, maka kincir angin yang akan mengambil alih sebagai penyuplai energy.
Hasil dari energy ini telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar pantai.











Biogas!
Selain konservasi-konservasi tadi, Pemerintah Kab. Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, dibantu Kemenristek dan KLH mengembangkan biogas yang dihasilkan dari kotoran ternak yang sudah dikelola oleh kelompok masyarakat kawasan pesisir pantai Baru Pandansimo, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan.
Hasil dr biogas ini dialirkan ke kegiatan memasak di rumah-rumah atau warung-warung kuliner pantai. Sehingga Biogas bermanfaat untuk mengakomodir peningkatan ekonomi bagi warga pesisir.










Susur sungai Opak.
Wisata alam menarik lainnya adalah susur sungai Opak. Kami diajak menaiki perahu untuk menyusuri sungai Opak. Berawal dari Pengklik (semacam dermaga di sebelah barat pantai Samas) lalu menuju jembatan sungai Opak dan kembali lagi untuk berlabuh di Laguna pantai Depok.

Jumat, 19 Juni 2015

"Tengkleng Bu Edy" |Pasar Klewer Solo|

Tengkleng is a traditional food originally came from Solo, Central Java, Indonesia . It is a stew-like dish cooked with various ingredients. It can contain mutton, goat’s rib, goat’s leg, and even goat’s head. However, most tengkleng sold in the stalll, is using ribs, mutton, or bones with an attached meat to it. The art of eating tengkleng is the use of bare hand to bite the meat and sucking the bones. Do not think it is disgusting until you try it yourself. You might find it fun and interesting. It will be an unforgettable experience for you to try. When you come to the stall, there are various menus that you can choose. The stall serves mutton fried rice, mutton satay, goat gulai (a curry-like dish) and tengkleng. Meanwhile, for the beverages, the stall provides vegetable juice to accompany your meal.

From Yogyakarta to Solo and return we can go by Train : Pramex, Sriwedari and Madiun Jaya from Yogyakarta train sta or Lempuyangan train sta.
 
Tengkleng Bu Edy located in front of "Klewer" Market Solo .





Sabtu, 27 Desember 2014

Catatan Buku Kumal | Suatu Keputusan! |

Lagu 'Smooth Operator' nya Sade masih terdengar sayup-sayup di ruangan yang agak remang itu. Tangan kuatnya masih memegang salah satu buku catatan jurnalnya. Sesekali dipandanginya. Dibuka- buka halamannya. Kadang terlihat wajahnya tersenyum, kadang mengernyitkan dahi. Buku-buku jurnal itu mulai ditulisnya sejak 20 tahun yang lalu. Semua peristiwa, cerita dan pengalaman-pengalaman baru dalam hidupnya tercatat rapi di situ. Mas selalu membawa buku jurnal itu ke manapun dia pergi. Buku itu kadang basah terciprat air atau terlipat entah sampai bagaimana bentuknya. Akhirnya warna sampulnya menjadi kumal. Nah karena itulah dia namakan buku kumal.

Mas ingat kata-kata sahabatnya. "Mungkin sudah saatnya Mas mengahiri dan  menutup buku kumal itu. Ganti dengan buku baru-lah mas, kasih nama baru, biar suasana hati juga menjadi baru!". Kata sahabatnya itu menyarankan. Dwi nama sahabatnya itu. Mereka saling berkenalan kira-kira empat tahun yang lalu, dilantarkan oleh sebuah sosial media. Mas sebenarnya sangat mengagumi Dwi karena kecerdasannya, keterampilannya menulis juga opini-opininya. Kadang Mas senang mendengar banyak informasi baru dari buku-buku yang sedang dibaca oleh Dwi. Begitu pula Dwi senang mendengar cerita-cerita tentang kehidupan Mas. Dari situ mereka menjadi cocok dan sering bertemu. Kulineran atau Ngopi di tempat-tempat unik adalah kesenangan mereka berdua, atau sekedar naik sepeda motor blusukan ke desa-desa dan berenang di sumber mata air. Dwi tinggal bersama Drew, pasangannya. Mereka sudah satu tahun hidup bersama. Beberapa kali Dwi mengajak Drew berkunjung ke rumah Mas, sesekali mereka makan malam bertiga. Mereka bersahabat.

Segalas kopi Wamena di atas meja mulai berkurang panasnya. Tangan kuat itu menjangkaunya kemudian perlahan diarahkan ke bibirnya lalu diseruputnya. " Masih lumayan hangat". Katanya dalam hati. Buku-buku  kumal mulai disusun menjadi satu tumpukan rapi. Diangkatlah tumpukan buku itu lalu dimasukkan ke dalam sebuah lemari kaca di dalam kamarnya. "Selamat tinggal buku-buku kumalku, kalian akan aman di sini". Mas berkata dalam pikirannya. Mas akhirnya setuju dengan saran Dwi. Sore itu telah diputuskannya menyimpan semua buku kumalnya. Dia akan memulai dengan catatan baru di tahun baru nanti. Mas juga memutuskan untuk mulai perjalanan baru dengan harapan yang baru pula. Kisah lama biarlah tertinggal di belakang sana. Kisah yang sangat mendera perasaannya sudah siap ditinggalkan. Tidak akan mengganggu pikirannya lagi. Mengikhlaskan kisah-kisah yang memang ingin pergi meninggalkannya,

Suara Sade terdengar sayup-sayup dengan lagunya 'Send Me Some One to Love'. Mas duduk di kursi kayu terasnya. Tangannya masih memegang segelas kopi Wamena. Matanya memandang dedaunan di taman depan rumahnya. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Tentang Buku Kumalnya atau lagu 'Send Me Some One to Love'nya Sade yang sarat dengan harapan itu. Namun yang jelas Mas sedang menyematkan harapan-harapan baru di senja itu.

Rabu, 02 Juli 2014

Pink Dot Singapore | Berbagi Cinta Untuk Semua |




Sudah bertahun-tahun saya ingin menghadiri acara ini. Baru Pink Dot yang ke enam ini saya bisa hadir. Pada awal tahun 2014 iklan mengenai Pink Dot sudah di gencarkan melalui Youtube namun tanggal dan bulannya saja yang belum dipastikan. Tiga bulan yang lalu saya iseng bertanya pada teman-teman di Singapura, mereka memberi informasi bahwa Pink Dot 2014 akan diselenggarakan pada tanggal 28  bulan Juni, saat itu pula saya langsung mencari tiket promo Air Asia. Malam itu saya langsung dapat harga lumayan murah dan langsung saya beli.

Pink dot Singapore sendiri secara umum adalah suatu perayaan untuk kebebasan mencintai. Cinta adalah universal, cinta bisa kita berikan kepada siapa saja misalnya kepada sang kekasih, orang tua, saudara kandung, teman dan sebagainya. Di mana ada cinta kasih disitu pasti ada kedamaian. Makanya dlam tagline di bawah tulisan Pink Dot adalah sebuah kalimat yang tertulis  “supporting the freedom to love.”


Secara khusus Pink Dot sendiri adalah suatu gerakan yang mengkampanyekan kepedulian terhadap keberagaman orientasi seksual dan identitas gender.  Dengan merayakan keberagaman ini setidaknya memberi pendidikan kepada masyarakat bahwa di dunia ini tidak hanya percintaan antara dua jenis kelamin laki-laki  dan perempuan (heteroseksual) namun lesbian, gay, biseksual dan transgender juga transeksual mempunyai hak yang sama dalam hidup bernegara.  


“Pinkdot is aimed at building a stronger, more open and inclusiveSingapore. Your presence here today is significant. For one, it raises public awareness about issues faced by LGBT Singaporeans. Two, it sends a signal to LGBT people here that thet are loved and valued inSingapore. Today’s event is 100% legit, legal and family friendly –so have fun, stay safe and be litter-free ”
I feel the love. Do you?

"Pinkdot bertujuan untuk membangun Singapore lebih kuat, lebih terbuka dan inklusif. Kehadiran Anda di sini hari ini adalah sangat penting. Satu, untuk menimbulkan kesadaran masyarakat tentang isu-isu yang dihadapi oleh LGBT Singapura. Dua, Pink Dot akan mengirimkan sinyal kepada orang-orang LGBT yang ada di sini bahwa mereka akan merasa dicintai dan dihargai di Singapura ini. Acara ini 100% berijin secara  hukum dan untuk seluruh keluarga, jadi marilah kita bersenang-senang, tetap aman dan menjaga kebersihan "
Aku merasakan cinta. Bagaimana dengan Anda?

Memang saya merasakan banyak cinta di sana, saya sangat  terharu. Tidak ada kebencian di sana. Semua orang ingin berbagi, bernyanyi, menari dan tertawa bersama. Mereka datang ke sana serasa piknik keluarga, piknik dengan teman-teman atau kekasih masing-masing . mereka menggelar tikar  dan membawa makanan, minuman dan sambil kipas-kipas (karena cuaca panas). Sangat beragam orang yang datang, namun dress code warna pink menjadi aturan, sehingga alun-alun Honglim Park menjadi warna pink meluas dari jam ke jam. Banyak pasangan muda yang datang dengan anjing atau kucing peliharaannya. Senang melihat acara itu karena penuh haru.  Saya hanya bisa membayangkan kalau suatu hari nanti kami bisa membuatnya di Indonesia. Saya optimis pasti bisa meski dengan gaya yang berbeda.



Panitia Pinkdot  juga sudah siap dengan adanya orang yang tidak setuju dengan acara ini, mereka menyebutnya dengan istilah “opposing camp”. Tetapi karena acara ini penuh dengan cinta, maka tertulis di leafleat :

“there are hecklers/demonstrators from ‘opposing camp’. Do not engage or antagonize. However, you may wish to record/ photograph troublemaking acts to aid law enforcers”

"Jika ada demonstran dari 'kamp lawan'. Jangan terlibat atau dimusuhi. Tetapi , Anda mungkin bisa  merekam / memfoto keonaran mereka  dan melaporkan kepada aparat penegak hukum “

Semua orang yang datang ke Pinkdot harus memakai baju warna pink. Acara yang diadakan di Hong Lim Park ini tujuan maraknya adalah, membuat gambar dot besar yang berwarna pink lalu difoto dari atas gedung di seberang taman itu lalu puncaknya adalah setelah pukul 19.00 waktu setempat para peserta secara bersama-sama menyalakan senter warna pink yang sudah dipersiapkan sebelumnya, oleh karena itu dari atas akan memancarkan cahaya berbentuk jantung hati dan berwarna pink. Estimasi peserta saat itu terhitung ada 26.000 manusia. Wow… saya merinding melihatnya sampai keluar air mata. 

Sayangnya ada peraturan bahwa pesrta dari Negara lain tidak diperbolehkan ikut dalam formasi warna dan cahaya. Saya tidak tahu mengapa. Saat itu saya minggir kearah jembatan penyeberangan dan menyaksikan dari atas sana.
Lagu “We are family”,  “I want to hold your hand”, " I am what i am" dan masih banyak lagu keren mengahiri acara ini.

Kalau saja kita semua bisa mengedepankan cinta, melepas stigma buruk bagi orang-orang yang punya orientasi seksual berbeda pasti akan damai dunia ini.


Oh … Air Asia telah membawaku ke acara yang paling keren selama hidup saya dan menyadarkanku bahwa kehidupan di dunia ini sangatlah beragam, dengan cinta pasti ada damai dan acara ini membuktikan pada saya bahwa cinta itu memang universal…… 
Cinta Untuk Semua!